Kenapa, ya karena emang gitu.

Gak tau gimana awalnya bisa ketemu terus bicara dan arah pembicaraannya dengan dia, aku bener-bener blank gak ngerti. Kemaren banget, di tengah-tengah pembicaraan ada percakapan absurd gak penting. Bisa dibaca di sini

” Kalau kamu disuruh itu sama orang tua nurut, disuruh ini juga nurut ya apa bedanya kamu sama robot. “

Aduh, pak buk aku ini orangnya kolot banget emang. Masalah ginian di tahun 2015 aku itu masih percaya sama kata-kata dari orangtua, khususnya doa dan kata-kata ibu, udah gak bisa ditawar buat aku. Jangankan itu aku aja percaya Allah, yang sebagian orang malah bertanya-tanya tentang keberadaanNya. Kolot ya?

Kalau anda ngeremehin aku, nganggap aku gak bisa, nganggap
aku bodoh, bego dan kawan-kawannya? Ya gapapa, itu aku udah kebal banget. Udah sering dapet kayak gitu. Tapi kalau mau ngebandingkan aku dengan orang-orang yang berani ngelangkahi atau mbangkang orang tuanya ya terus terang gak akan bisa. Apalagi dengan bangganya cerita itu di depanku. Ya maaf aja kalau aku ketawa ngece, karena di telingaku itu bukan lelucon dan sebenernya sangat gak etis.

Karena aku tau, orang tua nyuruh anaknya ada alasannya, ngasih pilihan ke anaknya pun ya karena ada alasannya gak asal nyeblak kayak air comberan. Orang tua mana sih yang mau anaknya sengsara, sedih, kecewa? Gak ada, semua itu ya semata-mata cuma demi anaknya biar anaknya seneng bahagia, sayangnya si anak emang gak sadar atau belum sadar itu. Aku juga bukan tipe yang ngotot sama orang tua, harus ngelanggar orang tua karena dasarnya emang males berdebat sama orang tua jadi kalau ada beda pendapat yaudah ngalah. Kalau emang gak suka yaudah nurutin, ngalah. Baru kalau udah bener-bener gak baik ya cari cara yang lebih sopan untuk dibantah.

Robot? Lah, anda sendiri yang menganalogikan diri sendiri dengan robot, dan itu cukup ngebuktikan kalau anda gak sayang diri anda sendiri sampek dianalogikan ke benda mati buatan manusia. Kalau aku mah ya anggap aku ini manusia, buatan Allah. Anda kayaknya yang robot, gak punya otak buat mikir sebelum ngomong, gak punya hati buat ngerasain yang orang lain rasakan.
Ya kan?

Menurut aku perjuangan orang tua itu terlalu berat untuk dibercandain, terlalu besar untuk gak dibalas apalagi dilangkahi atau dilupakan gitu aja.

Berani gak cukup jadi alasan untuk bisa ngelakuin itu, apalagi ditambah dengan ego-ego gak penting diri sendiri.

Mana bisa kita bales atas rasa sakit si ibu melahirkan?
Mana bisa kita bales jam-jam begadang bapak yang nyari uang untuk beli beras dan susu?
Mana bisa kita ngembalikan seluruh uang untuk semua yang dihamburkan dari lahir sampai detik ini?
Mana bisa kita ngembalikan tangisan-tangisan mereka karena khawatir?
Mana bisa kita gantikan rasa sedih mereka cuma karena ulah kita?
Mana bisa kita ganti rasa kangen mereka, kalau jauh dengan kita?

Gak akan bisa, berani bertaruh kita gak akan bisa ganti itu semua meski dengan uang sekalipun. Satu-satunya jalan, ya cuma bisa ngikutin maunya mereka dan ngeliat mereka tersenyum atau sekedar bernafas lega.

Kalau kamu gak bisa jadi alasan untuk mereka bahagia, ya minimal jangan jadi alasan mereka untuk kecewa dan sedih.

Pak, buk, dengan segala hormat sangat menghargai pengalaman anda yang sudah berani melangkahi perintah orang tua anda, yang katanya untuk masa depan yang lebih cerah. Tapi dengan segala hormat juga itu gak buat aku kagum malah aku kasihan dengan anda. Bukan maksud menggurui, sok banget, atau merasa hebat, tapi aku kasihan, iya kasihan anak yang ada di samping anda saat itu. Anak yang dengan sangat kuat anda pegang tangannya biar gak jatuh, dan sigapnya sebelah tangan anda memberikan mainan kesayangannya saat anak anda ngerengek minta pulang.

Bagaimana kalau dia ngelakuin hal yang sama dengan anda dulu, jadi anak yang membangkang keinginan orang tuanya demi ego masa remajanya belaka? Anda ditinggalkan demi keinginan-keinginannya sendiri tanpa memikirkan keberadaan anda, seolah-olah tidak peduli akan kekecewaan, kesedihan anda serta melupakan semua pengorbanan anda selama ini?

Oiya, tenang aja pak buk. Aku mah percaya jodoh, rejeki udah ada yang ngatur. Mau aku laku atau gak laku karena belum nikah atau aku miskin karena gak dapet kerja yang dirasa gak cocok, ya itu gak merugikan anda juga toh? Jadi gak usah repot-repot khawatir sama keuangan aku atau sekedar nyariin jodoh, anda mah cukup tertawa ngece ke aku aja terus, tau-tau besok aku anterin undangan nikahan aku. Jangan lupa dateng bawa uang banyak, sama bawa juga itu istri yang dengan bangga kawin lari biar aku tunjukin bahagianya aku dan keluarga aku nikah dengan restu orang tua tanpa lari-lari. Capek, tsaaay.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s