Dia gak mau main, ya?

” Tanteeee, ayo maen! “

” Bentar ya, ini masih ngerjain tugas. 10 menit lagi ya, jangan ganggu kak. “

” Oke, ditunggu ya. “

Sudah dipastikan dia ingin main perang-perangan karena dengan sigap tangan kecilnya meraih sebuah pistol mainan untuk dimainkan dari kotak ajaibnya di pojok ruang tengah rumah ini. Dia menungguku sambil menonton televisi acara berita malam, dengan wajah serius seperti mencerna berita-berita yang disajikan dengan mengayunkan kakinya yang tergantung di atas kursi.

” Yuk, maen. ” ajakku.

” Ayuk Te, maen polisi-polisian ya. Tante yang jadi penjahatnya, aku polisinya.

Dia mengarahkan mainan pistolnya ke arah kepalaku lengkap dengan gaya penembak jitu, lalu sedetik kemudian terdengan suara pistol dari mulutnya. Aku melihatnya dengan penuh kegemasan, mukanya jadi masam melihat ekspresiku.

” Tante, kalau ditembak itu tante harusnya langsung mati. Jatuh gitu lo, malah ketawa-ketawa. “

” Iya-iya. “

Permainan ini diulang hingga larut malam, dan berhenti saat orang-orang menyuruh kami untuk tidur. Kami beranjak ke kamar masing-masing untuk tidur, kamarku dan kamar kakak bersebelahan sedangkan kamar ayah dan ibu ada di belakang. Sekeluarga tidur terlelap malam itu, hingga jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Udah gak diherankan lagi, kebiasaanku dari dulu ini memang aneh. Jam berapapun tidurnya aku akan terbangun jam 3, setelahnya gak akan bisa untuk memejamkan mata lagi.

Aku keluar kamar menuju kamar mandi, untuk ambil wudhu shalat malam. Selesai dari kamar mandi, aku melihat kamar kakak terbuka sedikit. Dengan sedikit cahaya lampu kamar kakak, terlihat samar-samar ada sesuatu yang bergerak di dalamnya perlahan demi perlahan bergerak ke arah pintu kamar kakak, aku terus memandanginya tanpa melewatkan sedetik pun. Badanku gak bergerak sedikitpun, kaku, terdiam berdiri di tempat terus memandang ke arah kamar kakak. Perlahan ada tangan yang menggenggam daun pintu, pintu tertarik perlahan ke arah dalam kamar. Disusul dengan kaki yang perlahan maju ke arahku, aku masih diam terpaku di tempat tak bergeser sedikitpun, sosok itu semakin jelas keluar ke arahku. Degup jantung ini sudah tidak karuan, sosok itu mengeluarkan suara.

” Tante “

” Ya Allah, kamu kenapa bangun kak. Ngagetin tau. “

” Iya tadi kebangun, terus gak bisa tidur lagi Te. “

” Kakak mimpi buruk? Tidur lagi gih, masih malam Kak.”

Dia menggelengkan kepalanya, kemudian dengan sigap menyalakan televisi di ruang tengah mengisyaratkan kalau dirinya tidak mau tidur lagi.

” Kamu nonton sendiri dulu ya, tante mau shalat sebentar dulu. “

” Iya. “

Shalatku sudah selesai, tapi belum aku lepas mukenah si ponakan membuat keributan dari luar. Dengan cepat aku langsung menengoknya.

” Apa sih kak, masih malem loh kok mau main. “

” ssssssssssssssssssssssssst. “

Tangannya memberi isyarat untuk aku jangan berisik sedangkan dia tetap sibuk mencari sesuatu dari kotak mainannya yang ternyata pistol mainan kesayangannya, wajahnya terlihat puas sudah menemukannya. Tetap dengan gaya terbaik ala penembak jitu, si kakak memegang pistol dan mantap mengarahkan kepala pistolnya ke arah korbannya. Mata kecilnya sangat fokus mengarahkan pistolnya ke depannya, bukan ke arahku.

Penataan rumahku antar ruangnya oleh ayah memang tidak pernah diberi pintu atau penutup seperti gorden, dibiarkan begitu saja. Jadi di ruang tengah dikelilingi oleh kamar-kamar kami, dan dari situ terlihat jelas ke arah ruang tamu atau bahkan ruang makan di belakang. Dengan mataku yang masih sehat menyapu seiisi ruang tamu dan tidak menemukan apapun dan siapapun, hanya ada kursi-kursi dari kayu yang tertata memutar mejanya dan beberapa ornamen penghias di sudut-sudut ruangan. Terus aku lakukan tidak ingin ada yang terlewat, mata, pikiranku penasaran apa yang sebenarnya dilihat si Kakak.

DDOORRRR DDOORRRR DDOORRRR DDOORRRR

Suara pistol keluar dari mulut Kakak memecah kebingungan dan keheningan sontak aku melihat ke arah Kakak melupakan tujuan awalku, Kakak dengan mantap menembak dengan diiringi senyum khasnya. Tapi tidak berapa lama raut wajah si Kakak berubah seperti orang kebingungan dan kecewa, Dia menoleh ke arahku sekarang.

” Te, kok dia diam aja ya. Aku tembak berkali-kali gak mau mati ya? “

” Kakak tembak siapa? “

Tanyaku dengan datar setengah gak percaya. Belum dijawab pertanyaanku, si Kakak datang ke arahku masih dengan pistol mainan di tangannya, melewatiku dan masuk ke dalam kamarku. Sebelum badannya direbahkan ke atas kasurku, dia menoleh ke arahku yang masih diam terpaku di depan pintu kamar.

” Dia gak mau main, ya Te?

Aku tidur di sini ya, tutup pintu kamarnya Te. “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s