Dear ai, bacalah.

Dear ai,

Semoga saat kau baca ini, keadaanmu baik-baik saja dan selalu bahagia. Selalu terukir senyuman di wajah manismu, selalu.

Aku menuliskan surat ini alih-alih karena aku sudah rindu, tempat penyimpanan rinduku untukmu sudah habis tak beruang lagi, penuh dan sesak. Bolehkah aku menorehkan beberapa coretan di sini untuk menguranginya? Ya, semoga saja kau bisa membacanya. Aku tak yakin dengan keyakinanku sendiri kalau surat ini akan sampai padamu entah lewat apapun itu.

Mari bercerita tentang kita dulu, awal pertemuan yang tak menyenangkan dan akhirnya pun tak pernah menyenangkan juga. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin merubahnya.

Bukan aku menyesal telah mengenalmu, tapi satu-satunya yang ku sesali adalah aku tak bisa memberikan kesan di akhir. 

Aku tak terlalu peduli awal kita bertemu harus meregang otot, melontarkan kata-kata yang tak baik, dan saling berbalik punggung. Toh, pada akhirnya kau datang di saat yang sangat tepat kan untuk meminta maaf dan itu memperbaiki semuanya 180 derajat. Senang rasanya akhirnya mengenalmu dengan jarak yang dekat tanpa amarah. Tapi, sekarang yang aku khawatirkan adalah kamu, bagaimana keadaanmu saat ini? Aku terlalu khawatir kau mengambil jalan yang salah seperti dulu, bukannya aku tak percaya padamu tapi aku tau benar kau butuh tongkat untuk menguatkanmu berjalan. Dan dulu aku pernah jadi tongkat semumu, aku rindu sungguh rindu akan itu semuanya.

Aku terlalu rindu mendengar suaramu tengah malam, yang entah kita membicarakan seluruh isi dunia tanpa arah yang jelas.

Aku rindu gelak tawamu lepas saat aku bercerita sesuatu yang lucu yang terjadi padaku hari ini.

Aku rindu perhatian yang selalu terlontar bagaimanapun keadaanku saat itu.

Aku rindu mengirimkan pesan-pesan singkat yang tak penting, hanya sekedar menyapa dengan sapaan khasmu.

Aku rindu kau memberikan laporan keadaan di sekitaramu, bahkan aku juga rindu dengan pesan suara yang kau kirimkan padaku.

Aku merindukan semuanya, semua yang ada padamu, semua yang terjadi padamu, semua yang kamu berikan, semuanya. Karena semua yang ada padamu sekarang, adalah hal yang sangat aku rindukan di sudut hari-hariku. 

Sekarang, itu cuma bisa dirindukan bukan dilakukan lagi. Sayang sekali masa-masa itu tak bisa bertahan lama, ya bahkan aku tak pernah berusaha untuk mempertahankannya. Sangat ingin menemuimu, menebar rindu dan menabur pelukan di sekujur tubuhmu agar kau tau aku sangat menyesal untuk hal ini. Bohong kalau aku tak ingin kembali, aku sangat ingin meskipun itu tak bisa.

Apakah kau juga merindukanku? Ah sudahlah, aku sudah benar-benar tak yakin atas keyakinanku sendiri. Tapi aku tetap ingin keyakinanku benar, nyata. Semoga.

Untukmu ai, maaf untuk semua yang terjadi dan kesalahan yang selalu aku buat dan terimakasih untuk kenangan manis yang kau buat. Maukah kau membuatnya lagi, tanpa henti di sepanjang hidupmu? Setidaknya, kau meyakinkanku kita adalah sahabat.

Kalau aku diam bukan berarti aku tak peduli, kalau aku tak bertanya bukan berarti aku tak mau tau, kalau aku marah bukan berarti aku benci, kalau aku pergi bukan berarti aku ingin. Dan semua itu, aku bungkus dengan doa. Doa harapan untukmu, agar kau baik-baik saja dan selalu bahagia meski tak mengingatku. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s