Aku Tak Bisa Berjanji Apa-Apa Selain Bertahan Bersamamu.

Lelaki itu duduk terdiam di kursi depan rumah memandang gemericik air hujan yang turun. Entah apa yang kau pikirkan, tapi aku sangat yakin di balik itu semua ada akar-akar pikiran masalah yang tak pernah putus. Lelaki itu, lelaki pertama yang mengajarkanku bagaimana dicintai dan disayang dengan tulus. Dia lelaki yang tak akan pernah pergi dari kehidupanku, selamanya. Ingin aku memeluknya, bercerita tentang duniaku seperti dulu di pangkuannya.

“ Baginya, aku akan selalu menjadi gadis kecilnya yang tak akan pernah dibiarkan menangis karena tergores sekalipun. “

Ayah,

Dulu aku gadismu yang dulu kerap kali berceloteh panjang lebar kepadamu bagaimana hari ini, entah ada yang mencibirku atau berkelahi denganku semuanya kuceritakan tanpa terlewat. Selalu membuatmu terjaga di tengah malam karena sakit panas atau sedang mimpi buruk, bertingkah yang diakhiri dengan senyuman dan tawa di wajahmu. Namun sekarang sudah berbeda, Aku tak lagi banyak bercerita tentang batu-batu kecil penghalang hariku lagi. Aku selalu membuatmu mengernyitkan dahi bukan senyuman lagi, sering membuatmu khawatir di tengah malam karena aku sedang tak ada di kamarku.

Yah, Sungguh aku sangat bangga memiliki kesempatan untuk menjadi gadis kecilnya yang sangat Engkau sayangi, bahkan kalaupun aku disuruh untuk memilih aku akan tetap seperti ini.

Maaf Yah, aku tak lagi seperti gadis kecilmu dulu. Bukan karena aku tak sayang lagi, tapi saat ini aku tau betapa beratnya perjuangan Ayah. Aku tak lagi banyak bercerita akan masalah-masalahku lagi karena aku tau, di pikiran Ayah masih banyak yang harus dipikirkan. Aku tak ingin Ayah bertambah khawatir, biarkan aku mandiri dengan hidupku. Aku tak lagi sering bersama Ayah, karena sejujurnya aku tak sanggup menyimpan air mata kesedihan melihat Ayah yang semakin lama semakin berkurang tenaganya.

“ Yah, ketahuilah aku bukan gadis yang pandai mengungkapkan semua sayangnya dengan baik. Aku tetap melakukan yang terbaik untuk Ayah, di balik doa dan diamku. “

Ayah, di luar  aku sadar betapa banyak mata banyak pikiran yang tak akan pernah sama. Dan seburuk apapun engkau di mata orang lain tetapi bagiku Engkau masih yang terbaik, sejatuh-jatuhnya Engkau di mata orang lain tapi bagiku Engkau masih di tempat tertinggi. Berapapun panjang kalimat yang tertulis atau terlontarkan tidak akan pernah bisa menggantikan rasa terimakasihku paadamu Yah. Terimakaasih hal-hal terbaik yang Engkau berikan Yah, apapun itu aku sangat berterimakasih.

Tapi, aku minta maaf. Aku belum bisa membalasnya satu persatu, Yah. Maaf, aku tak pernah bisa melindungimu seperti Engkau melindungiku. Aku tidak bisa menjadi pahlawan untukmu seperti Engkau menjadi pahlawanku.

Yah, boleh aku bertanya?

“ Apa Ayah sayang sama aku? Apa Ayah sanggup berpisah denganku? “

Aku, sangat sayang sama Ayah. Aku gak bisa membayangkan nantinya Ayah pergi dariku, meski aku tau semuanya akan berpisah. Tapi Yah, aku masih ingin berlama-lama bersamamu. Merasakan pelukanmu, kasih sayangmu, mendengarkan suaramu dan memandangi wajahmu setiap saat dan lebih lama lagi. Aku ingin berpisah Yah, entah itu di dunia berikutnya. Dan kalau memang Ayah sayang dan gak bisa pisah sama aku juga, mau kah Ayah berjalan bersamaku di jalan yang sama? Mau kah Ayah ikut bersamaku, saling berpegangan tangan di jalan yang sama? Boleh?

“ Di jalanku ini mungkin aku gak bisa berjanji tanganku sanggup memegang tanganmu sangat kuat sehingga Ayah tidak akan terjatuh, juga perlindunganku untuk Ayah tidak akan lebih aman seperti lindungan Ayah kepadaku. Aku tak bisa berjanji apa-apa selain bertahan bersamamu, hanya bisa memastikan nanti aku akan selalu ada. Dengan tangan yang mampu untuk membantumu bertahan dari kesakitan, mampu bangkit kembali dan tetap berjalan ke depan bersama-sama. “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s