Sampai jumpa (kembali), Sahabat!

Di siang hari, pulang sekolah kamu datang ke depan rumahku. Memanggil-manggil namaku agar aku bisa keluar dan bermain bersamamu, lalu kita berhamburan satu sama lain saling mengejar dan melepas tawa yang entah itu tentang apa.

“ Aku akan ingat benar semuanya secara detail apa-apa yang membuat aku dan kamu menjadi satu, kita. “

Saat hari libur, sudah dapat dipastikan aku atau kamu tak akan pernah ada di rumah masing-masing sedari pagi hari. Karena kita akan berpetualang keliling kompleks, sekedar melihat petani-petani di sawah, bermain air di aliran-aliran sawah, atau berkelompok di lapangan bersama yang lainnya. Aku sangat ingat itu semua, sangat ingat betul aku dan kamu adalah sebuah kita yang sangat dekat saat itu, semuanya dilakukan bersama. Saat satu diantara kita tidak makan atau sakit tanpa aba-aba dari siapapun satunya akan menjadi penguatnya, menjadi penyokong kelemahannya. Semua yang dimiliki bukan lagi bernama milikku atau milikmu, tapi bernama milik kita yang kapanpun satu diantara kita memilikinya.

 “ Apa kamu juga mengingatnya? “

“ Apa kamu masih menyimpannya dengan baik hingga detik ini? “

“ Apa kamu juga merindukan semuanya? “

Tapi yang satu, yang aku tau dan sangat yakin. Di sana kamu pun sama sepertiku saat ini, merindukan apapun yang kita lakukan, apa yang kita bagi, apa yang kita rasakan dulu. Semua kita yang tak dipisahkan, tapi sekarang kenyataan memberikan jarak di antara aku dan kamu. Jarak itu tak bisa dilewati oleh siapapun dan apapun, rindu yang menggebu-gebu sekalipun.

Mas aku rindu, rindu kita yang dulu. Entah sudah seberapa banyak celengan rindu yang aku kumpulkan sejak pertama kamu memilih pergi, pergi untuk selamanya dari hidupku. Sudah bertahun-tahun aku menyimpannya dengan baik tentang kita, mengumpulkannya dari puing-puing kenangan dulu. Apa sekarang kamu bahagia di sana, Mas?

Seandainya, sampai detik ini kamu masih di hidupku apakah kita akan selalu ada? Apa kita, akan terjalin selamanya tanpa memandang aku dan kamu yang beranjak dewasa? Atau akan berakhir sama seperti yang lainnya, bersahabat di masa kecil tapi hancur dan renggang perlahan saat tumbuh dewasa? Entah ini jahat atau tidak, tapi aku sangat bersyukur karena setidaknya saat sebelum kamu pergi aku dan kamu masih dekat. Setidaknya bukan sebuah perjalanan kedewasaan yang merenggangkan kita tapi hanya sebatas jarak. Jarak dunia yang berbeda.

“ Sudikah engkau datang menjengukku, meskipun hanya di mimpi? Aku sangat ingin melihat wajahmu yang sekarang. “

Ketahuilah, Mas. Aku rindu denganmu, semua yang ada padamu dulu. Tapi aku mengerti, kenapa Tuhan mengambilmu terlebih dulu karena kamu yang terbaik dan Ia tak ingin kamu merasakan sakit lebih lama lagi. Aku di sini, akan selalu menyelipkan doa untukmu.

“ Terimakasih banyak atas kenangan yang engkau buat saat bersamaku, meskipun hanya sebentar tapi itu semua akan teringat selamanya. Untukku. Sampai jumpa kembali, Sahabat. “

 

Advertisements

2 Replies to “Sampai jumpa (kembali), Sahabat!”

  1. “ Terimakasih banyak atas kenangan yang engkau buat saat bersamaku, meskipun hanya sebentar tapi itu semua akan teringat selamanya. Untukku. Sampai jumpa kembali, Sahabat. “

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s