Berbahagialah, meskipun tanpa ada Kita lagi.

Halo, my patner!

Di antara semua kebingunganku kenapa harus ada orang-orang alay, orang norak, sombong, dan lain-lain ada satu hal yang sangat mengganjal di aku.

“ Kenapa harus ada throwback kalau itu bikin diri sendiri sakit hati? “

Iya beberapa hari ini, aku udah melewatkan hari-hari terlemahku dengan angan-angan masa lalu. Gila ya, hampir setiap detik aku sama kamu selalu bareng sudah melanglang buana kemana-mana berdua, sampai akhirnya ada yang bilang kita mirip gara-gara sering bareng. Sekarang? Jangankan setiap detik, hari pun kalau gak ada rencana dan dukungan semesta gak akan bisa bareng lagi. ya ampun sedih. Dari makan bareng, ketawa bareng, pergi bareng, sepemikiran bareng, bad mood-bad mood an bareng, gak jelas bareng, gabut bareng, pillow talk, curhat terselubung bareng, gossip bareng dan semua yang berembel bareng sama kamu sekarang udah gak bisa dilakuin bareng lagi. Kita dipisahkan oleh jarak yang awalnya cuma sepele, komunikasi hanya lewat media social via teks tanpa suara atau video. Ini 360 derajat ngerubah semuanya tentang kita.

Tapi, jauh di luar itu semua sebenarnya aku menulis dan mengirimimu pesan ini bukan untuk menarikmu ke belakang bersama, tapi aku ingin menggandeng tanganmu untuk maju bersama.

“ Aku sangat rindu melakukan semuanya bersamamu, entah itu yang sudah-sudah atau yang belum pernah dilakukan bareng. Di kepalaku masih sangat jelas gambaran imajinasiku hidup bersama, melakukan apa yang disenangi bersama, memetik impian-impian kita bersama. Gila ya, aku? “

Entah kapan itu, aku sangat mengaminkan semuanya bisa terjadi secepatnya. Tapi sepertinya semesta ingin membuat cerita lain untuk kita masing-masing, hingga aku berfikir hal-hal yang sangat aku inginkan bukanlah salah satu dari keinginan utamamu. Sebanyak apapun keinginanku bersamamu, pasti akan kalah dengan semua yang sudah tertulis. Dan aku tersadar, sedikit banyak tentang ini.

Aku tak lagi ingin memaksakan semuanya di kita bisa terlihat bahagia, tapi aku sangat ingin untuk semuanya di kita akan terasa bahagia.

Aku tak lagi berharap banyak bisa menghabiskan dan menikmatinya bersamamu, tapi aku sangat berharap kamu dan aku bisa menghabiskan seluruh cerita masing-masing dengan bahagia versi kita sendiri dan bisa menikmatinya.

Tapi, dari semua kepasrahan yang ada bukan aku ingin menghilang dari hidupmu dan kamu juga hilang dari hidupku. Aku hanya menginginkan kita bisa berjalan di jalan masing-masing dengan kuat dan mandiri. Percayalah,

Setiap diamku terhadap apa yang kau lakukan dan rasakan bukan karena ketidakpedulianku, tapi karena aku sedang melihatmu dari kejauhan dan memperhatikannya tanpa kecuali.

Setiap langkah menjauhku kepadamu bukan karena aku ingin menghilang tapi aku sedang menguatkan juga memandirikan diriku dari jalanku sendiri.

Setiap kata semangat, sayang yang tak pernah keluar untukmu dariku, bukan karena aku acuh tak acuh tapi karena aku sudah percaya akan dirimu pasti bisa menghadapi semuanya.

Setiap curhatan yang tak pernah terselesaikan atau kuberikan solusi, pasti akan ada doa-doa untukmu yang kuminta agar semuanya diberikan yang terbaik.

Setiap jarak-jarak yang terhitung dari tempatku ke tempatmu akan ada usahaku untuk selalu ada, saat kau membutuhkannya.

Sahabat, meski sekarang kita sudah menjadi aku dan kamu, meskipun jalan yang kita tempuh sudah berbeda jauh, meskipun bahagia dan tangis datang pada aku dan kamu silih berganti, meski waktu terus menyerang kita, meski jarak terus menghadang kita, meski pada akhirnya kita tak lagi pernah ada. Tapi itu semua, aku akan terpatahkan dengan waktu yang aku luangkan, bahu-bahu rumah yang selalu sedia menampungmu, tangisan yang terselip di doa-doaku untukmu. Tetaplah menjadi kuat di sana meski kamu sudah di puncak kelelahan, tetaplah tegar meski angin badai datang dan pergi, tetaplah tersenyum meski sedih dan masalah silih berganti, dan tetaplah menjadi sahabatku meski semuanya sudah tidak mungkin terjadi.

“ Seandainya waktu dan jarak bisa menggerus semua yang ada di bumi, akan aku pastikan mereka tidak akan bisa menghapus kamu, sebagai sahabatku. Dan aku harap begitu juga denganku. “

Advertisements

One Reply to “Berbahagialah, meskipun tanpa ada Kita lagi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s