Untuk Tuhan

To               : Tuhan kita semua

Subject       : Permohonan Maaf Seorang Gadis Berkepala Batu.

Selamat Pagi.

Tuhan, ijinkan aku menuliskan e-mail ini untukmu. Sekali saja, mungkin ini akan cepat terkirim daripada doa-doaku sebelumnya yang terhambat dosa. Tuhan, sebenernya aku mau ngeluh daripada minta maaf tapi … Ya baiklah.

Tuhan maaf, banyak yang salah dari aku. Kalau dijabarkan dengan list-list mungkin lebih baik aku taruh di word dan attach file aja. Tapi pada intinya seperti ini.

Maaf untuk segala yang aku paksakan, sering aku minta sesuatu dengan embel-embel “ pengen, butuh, sekarang, secepetnya “ apa-apa diwajibkan tanpa koma. Padahal selama ini aku masih terlalu buta untuk ngeliat mana yang memang baik dan buruk untuk aku, aku juga masih buta arah dengan jalan di depan, dan masih sangat tidak bisa menghargai waktu yang benar. Maaf ..

Maaf untuk ingatan yang jelek sekali, Tuhan gak pernah lupa setiap hari aku dikasih kesehatan, kenikmatan, masih bisa nafas dan beraktifitas tanpa diminta. Tapi aku? Ingat pas susah aja, pas bahagia kadang gak ingat. Maaf ya Tuhan untuk ingatanku yang jelek ini.

Maaf untuk rasa sombong yang aku punya, aku sadar sesadarnya. Aku sombong sekali dengaMu ya Tuhan, padahal yang disombongkan adalah pemilik segalanya. Aku masih terlalu sombong untuk mengakui kelemahan-kelemahan, mengakui ketidakbisaan untuk menunggu lebih sabar lagi, menjalani sesuatu yang bukan keinginan-keinginanku selama ini.

“ Aku memang bukan warna putih yang sangat indah, tapi aku juga gak ingin jadi warna hitam. “

Maaf ya Tuhan, atas semua-semua yang menjadi kelemahanku, kecetekan ilmuku, keangkuhanku, dan kerasnya kepalaku. Aku memang bukan putih, aku sadar aku mungkin gak akan bisa jadi putih bersih seperti baru dan suci, tapi aku sangat ingin membersihkan warna-warna lain yang membuat warna putihnya hilang. Semua butuh waktu, semoga kesabaranMu untukku masih banyak menunggu semuanya.

Entah, sebanyak apapun aku menulis kata maaf dan terimakasih untuk semua ini gak akan cukup menggambarkan dan gak akan pantas. Seperti buih ombak permintaan maafku kepadamu ya Tuhan.

“ Tuhan, aku memohon sekali lagi untuk Engkau bersabar karena aku sedang berusaha untuk menjadi debur ombak yang tak pernah berhenti untuk mematahkan kerasnya karang kepalaku sendiri dan menjadi debu pasir yang lembut seperti yang Engkau Ingini. “

Semoga Engkau berkenan membaca e-mail ini, dan memikirkannya kembali. Terimakasih.

Selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s