Di Dalam Bagianku Tertata Rapi Bagianmu.

Hai. Sudah kamu bahagia hari ini?

Saat aku menulis ini, di sini hujan deras. Tapi tak hanya langit yang menumpahkan air-airnya, begitupun juga dengan mata dan hatiku. Masih sama, sangat sama, bagaimana hati ini masih bergetar saat mengingat namamu. Hebat ya, semua masih sangat rapi di aku.

 “ Aku masih tetap di sini tempat yang sama, memikirkan dan menunggu orang yang sama dan rasa yang tak pernah berubah sedikitpun. “

Memang, di sini masih tersimpan rapi. Bukan memang aku tak mau membuangnya tapi aku sadar diri, kalau batas kemampuanku untuk menghapusnya memang tidak bisa benar-benar menghapus bahkan menghilangkannya. Rindu-rindu yang ku simpan pun sudah menggunung di sini. Entah, aku sudah berusaha cukup keras untuk itu.

Bagian-bagian ini bukan kubuat untuk senjata menghadirkanmu kembali, juga tidak karena aku ingin memintamu mengulang semua yang dulu, bahkan mengemis kepadamu untuk memberikan apa-apa yang dulu memang kerap kau berikan. Aku tau, cukup tau dan sadar diri kalau kau sekarang sudah bahagia dengan tanpa aku.

“ Diam-diam aku tau, kau sudah berbahagia di sana bersama yang lain tanpaku. Maka ku simpan rapat-rapat perih rindu ini, agar tak menganggu kebahagianmu. “

Aku sudah tak punya apa-apa untuk memintamu menjaga perasaanku, yang bisa aku lakukan di sini hanya diam memandang seperti orang bodoh. Orang bodoh yang mengharapkan sesuatu yang sudah terbuang jauh, dan sudah tertemukan pemilik lainnya. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, tapi rupanya aku harus membuat batas-batas untuk menjaga perasaan orang lain, jadi aku akan membuatnya singkat.

Terima kasih untuk semua-semua yang sudah kamu berikan untukku entah itu memang disengaja atau tidak, entah itu karena sebuah ketulusan atau keterpaksaan. Aku sangat berterimakasih banyak, karena tak dipungkiri kamu orang yang pernah ada dan sampai detik ini ada.

Maaf untuk semua yang aku lakukan kepadamu, menyakitimu, menggores harga dirimu baik itu sengaja kulakukan atau tidak. Maaf, karena aku tidak pernah baik dan becus menjadi seperti yang kamu mau. Maaf keterbatasanku ini.

Seperti ini, kita kembali seperti dulu yang tak pernah ada, memilih jalan yang berbeda. Entah nantinya akan dipertemukan lagi dipersimpangan jalan, aku harap semuanya akan baik-baik saja dan memang yang terbaik. Hatimu sekarang hatimu, jagalah dia baik-baik.

Kesehatanmu yang terpenting, semoga kamu tetap kuat dengan semua yang ada. Tetaplah menjadi kebanggaan siapapun di sekitarmu, jaga mereka-mereka yang menyayangimu buatlah mereka bahagia, tapi yang terpenting adalah kebahagiaanmu.

Kenangan tentang kita tertempel rapi di album-album kenanganku, rasa rindu dan sayang ini untukmu masih tetap sama, keinginan menunggumu pun masih belum berkurang. Semuanya aku kubungkus dengan rapi dan kupastikan semua yang di dalamnya tidak akan pernah berubah.

Semua yang berembel dulu aku bersyukur tak pernah untuk disesali, semoga ini menjadi jembatan aku dan kau untuk ke jalan yang terbaik.

Kamu tak perlu khawatir akan keadaanku, rasaku yang akan mengganggu kehidupanmu, aku akan menyimpannya baik-baik dan mengaturnya sedemikian rupa agar tak merusak kebahagiaanmu. Aku, di sini akan tetap berjalan. Meski aku terkadang bersembunyi untuk menyelipkan namamu di setiap doaku, aku pun masih tak pernah alfa untuk mengingat semua yang pernah ada kita, begitupun aku tak pernah absen untuk menghitung waktu yang berjalan. Semua tak akan menyeruak liar kepadamu, karena selalu ku simpan dengan rapat-rapat.

“ Karena di dalam bagianku tertata rapi bagianmu. “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s