Aku Sudah Jatuh Sedalam-Dalamnya Di Dalam Dirimu.

Surat ini dibuat dengan menyisakan baris-baris senyum bahagiaku, aku sudah seperti gila dan hampir gila akan hal ini. Tak bisakah ini dibuat lebih jelas lagi agar aku tak lagi bermain teka-teki, di sini. Rupanya, aku sudah termakan dengan kalimat-kalimatku sendiri. Dan sekarang aku menikmati balasannya.

Karena aku selalu meyakinkan diri ini untuk tidak selalu melibatkan semua rasa ke dalam jurang cinta, aku selalu menggeret-geret logika untuk ikut dengannya. Tapi sepertinya, aku sudah terlambat sekarang. Semua kalimat-kalimat yakinku itu melepuh bersamaan dengan datangnya sosokmu di pikiranku, awalnya memang hanya sekelebat dengan perlahan tapi pasti kamu sudah menempati seluruh pikiranku. Ya, kamu sudah berhasil. Aku bukan lagi mendekati jurang yang kamu buat, tapi aku sudah jatuh tersungkur di dalamnya.

“ Entah orang-orang menyebutnya dengan sebutan apa; bodoh, kasihan, baper dan gila kepadaku, tapi aku tetap menyebutnya jatuh cinta. “

Di ruang-ruang pikiranku sangat jelas bagaimana kita mengawali pembicaraan dan mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing, mengaitkan satu sama lain atas se. Pembicaraan itu aku hafal setiap detailnya, bagaimana matamu memandang, bagaimana ekspresimu terkuak di mataku, bagaimana kamu memoleskan senyuman, dan bagaimana kamu tertawa, semuanya seakan-akan berjalan dengan lambatnya saat itu. Mataku diam-diam mencuri pandang melihatmu, tak sadar senyumku pun terangkat, degup jantungku sudah tak beraturan iramanya, jangan tanyakan hatiku karena ia sudah tak karuan, dan pikiranku sudah penuh kamu seketika. Sampai detik ini semuanya masih sangat jelas sekali, suaramu, alunan tawamu, ekspresimu, semuanya tak terkecuali lagi. Gila kah aku sudah?

“ Aku berdiam bukan karena aku ragu atas rasa ini, Aku tak mengungkapnya bukan karena aku tak berani. Tapi ini tentang bagaimana aku memperjuangkanmu dalam diam. “

Aku tak ingin gegabah seperti sebelum-sebelumnya, aku masih tetap berusaha dengan tergontai untuk menyeret logika masuk ke dalam situasi ini. Aku tak ingin terbuai dengan rasa bahagia khayalanku sendiri, karena aku tau di luar sana kenyataan sudah menunggu. Keputusanku sudah bulat, aku ingin memperjuangkanmu dalam diam. Memang ini terlihat sangat buruk, terlihat seperti pengecut, dan terasa tak berani. Tapi yang sebenarnya, aku tak ingin membuatmu terlihat jelek seperti layaknya yang sudah-sudah di mataku. Aku juga tak ingin membuatmu memerankan pria penebar harapan hanya karena tinggi harapan dan rasaku kepadamu, begitu juga aku tidak sangat ingin menyudutkanmu karena ketidaktahuanku yang mencoba menerka-nerka rasamu terhadapku. Akhirnya, aku membuatnya menjadi jelas versiku sendiri.

Posisiku terhadapmu aku sama ratakan dengan posisi orang-orang di sekitarmu, sehingga aku tak perlu lagi menanyakan bagaimana aku di matamu.

Kebaikan, keramahan, dan perhatianmu aku menilainya sama dengan perlakuanmu ke orang lain, jadi aku tak perlu lagi terbang tinggi-tinggi akan perlakuanmu.

Kalimat-kalimat bunga cinta yang ingin aku ucapkan kepadamu, aku ceritakan dalam tulisan yang tidak akan kamu baca sekarang.

Harapan-harapanku kepada dirimu dan tentang kita tak kubiarkan tumbuh tinggi, sehingga aku tak perlu menjudgemu pemberi harapan palsu.

Rindu-rinduku tak ku umbar kepadamu, tapi kubiarkan terselip dalam doa.

Dirimu tak perlu khawatir karena aku di sini akan berusaha sebisa mungkin mengatur semuanya dengan baik, kamu tetaplah menjadi dirimu sendiri yang aku dan orang lain sukai tanpa menambahkan atau menguranginya. Tapi rupanya sejelas-jelasnya semuanya di mataku tetap saja itu adalah dinding-dinding pemikiran yang kubuat sendiri dan tak pernah terverifikasi dalam kenyataan, terkadang sekelebat pemikiran datang sekedar menghancurkan benteng yang sedang kubangun. Aku sangat ingin tahu, apa-apa peranku dalam benakmu? Apakah semua yang aku rasakan kepadamu juga terjadi padamu? Kapan waktu yang tepat akhirnya kau bisa membaca cerita yang ku tuliskan? Apakah pada akhirnya, kamu bisa tahu dan mengerti apa yang sedang terjadi padaku saat ini?

Dan akhirnya, aku harus kembali memasuki benteng pertahananku kembali. Mengikhlaskan beribu-ribu pertanyaan yang menyerang terhempas ombak, merelakan semua khayalan-khayalan kebahagianku melebur menjadi bersama kobaran api kenyataan. Aku harus membangun dinding rasa dan logikaku dengan baik, biarkan waktu yang akan menggambarkan bagaimana kejelasan keadaannya.

Terakhir, aku ingin kamu tahu akan rahasia terbesarku. Ketahuilah, Ara.

“ Aku sudah jatuh sedalam-dalamnya di dalam dirimu. “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s