Karena, doa tidak akan pernah sia-sia.

Karena tanpa usaha dan perjuangan, mimpimu hanya akan menjadi mimpi di bunga tidurmu.

Kalimat ini yang terngiang-ngiang di pikiran selama beberapa hari kemaren, udah kayak dibunuh sama kalimat ini rasanya. Sangat percaya dengan kalimat ini, semua mimpi harus diusahakan agar menjadi kenyataan. Tapi bisakah, ini dijudge dari sisi lain?

Ada seorang cewek sebut saja I, dia tinggal di kota yang kecil gak terlalu besar memang tapi gak terlalu kecil juga. I percaya, dia mempunyai bibit bunga yang bagus, dia sangat ingin menanam dan merawat bibit itu menjadi bunga bahkan taman yang indah di tengah-tengah hiruk pikuk kota besar. Dia pun mempunyai impian membeli sepetak tanah di tengah kota yang menurutnya sangat strategis dan cocok untuk ditanaminya. I berusaha keras mewujudkan mimpinya, dengan usaha yang keras dan tekun, mulai dari menghubungi teman-temannya yang punya hubungan dengan si pemilik tanah, menghubungi semua yang bias dihubunginya. Terus menerus tanpa lelah, di tengah penantiannya I belajar, belajar bagaimana menjadi petani bunga yang baik, bagaimana merawat bibit yang baik. Pada akhirnya penantian itu datang, si pemilik tanah menghubungi I lewan pesan singkat, mengajak untuk bertemu dan bernegosiasi tentang harga. Dia diberi waktu 2 hari untuk memutuskannya dan membalas pesan si pemilik tanah tersebut, tapi di tengah-tengah I mengirim balasan tersebut sinyal di handphonenya hilang. I berusaha dari sudut ruang ke sudut lainnya untuk mencari sinyal tapi tak kunjung berubah, sinyalnya tetap hilang entah kemana hingga ke hari berikutnya dan deadline yang diberikan sudah habis. Bersamaan itu, mimpinya juga habis dilahap sinyal.

Gila ya ini? Sial memang nasib si I, dan sialnya lagi si I adalah aku. Aku yang mempunyai mimpi tinggi, saat kesempatan datang dengan mudahnya dihancurkan , penantian yang dinantinya pun juga sia-sia selama ini cuma karena terhalang sinyal yang jelek.  Cuma karena sinyal jelek, hal sepele mungkin bagi orang lain.  Tapi untuk aku, ini sebuah hal penting yang sebenarnya tidak bisa aku tinggalkan, seperti sebuah handphone tanpa sinyal dia akan mati tak bergerak kemana-kemana tak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Akupun begitu, kalau aku memang nekat sangat bisa memang, aku berlari ke kota lain mencari sinyal dan menghubungi si pemilik tanah, tapi sayangnya aku masih sangat kolot untuk seperti itu semua. Aku memutuskan untuk berdiam saja, mencoba menerima semuanya.

Entah ini memang tanah itu datangnya di waktu yang tidak tepat, atau tanah ini memang bukan milikku, aku sudah tidak tahu menahu tentang itu lagi. Yang aku tahu sekarang,  mimpiku tentang itu sudah hancur sehancur-hancurnya seperti debu. Tapi, aku masih percaya satu hal;

Doa masih hal utama penentu semuanya, jika memang mimpi itu datang di waktu yang salah esok akan datang di waktu yang tepat, tapi jika memang mimpi itu bukan hal yang aku butuhkan akan ada hal lain yang bisa menggantikannya, insyallah akan lebih baik.

“ Terserah orang menyebutku sebagai pemimpi, pecundang yang tak pernah berusaha untuk mimpinya, orang yang penakut mengambil resiko, setidaknya aku masih punya satu hal. Yaitu, doa. Karena, doa tidak akan pernah sia-sia. “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s