#cerita berantai part 1

Capek, ditambah terik si matahari panasnya menyengat ke kulit gak seperti biasanya. Rasanya kulitku yang gak terlalu putih ini jika terjemur seperti ini lama lagi aku bisa dibilang orang negro. Jarum di mesin mungil tanganku menuju angka 11 dan satunya sudah melebihi angka 10.

“ ah, masih jam 11 lewat 11. tapi kenapa panas gini sih. ini juga yang ditunggu mana coba, emosi lama-lama! “

Tiba-tiba sekelebat pikiran datang tentang 11:11 ini dan terdengar gak asing, beberapa tahun lalu ada artikel tentang ini dan mengungkapkan kalimat.

Pada jam 11:11 adalah kejaDian yang langka, 11 gerbang akan terbuka bersamaan dengan gelombang yang ada. Ini akan membuat The heart of AN dari dirimu terbuka.

“ emang iya? ah tapi aku liat ya biasa aja sih, gerbang apaan juga dah. artikel ngaco. “ tolakku.

Tak beberapa lama aku tertuju pada cowok berkulit sawo matang, tinggi dan berisi memakai kemeja pendek kotak2 berwarna merah dan abu-abu dipadu dengan jeans biru dan sepatu sneakers yang kelihatannya sudah cukup berumur karena dari warnanya. Aku bisa menebak itu pasti Ari teman yang aku tunggu-tunggu dari tadi dengan janjinya jam 11 ketemu di depan gerbang sekolah, rasanya aku pingin teriak di depan wajahnya karena telah menyia-nyiakan waktu selama 20 menit.

Bagus masih bisa senyum aja itu anak, liat aja kalau aku gak ditraktir bakso 2 mangkok aku gak akan maafin. hih “ gumamku.

Tapi sebelum aku sempat berteriak kepadanya sudut mataku terfokus pada satu objek yang membuat kerongkonganku rasanya seperti tercekat, objek itu adalah sosok yang ada di sebelah Ari. Ari gak sendiri DIa berjalan sama seorang cowok lain yang tampak akrab sekali dengannya, cowok itu cukup bersih, kurus dengan tingginya sekitar 165 cm, hidungnya mancung dan bentuk mukanya panjang. Ia memakai kemeja polos berwarna biru muda panjang yang dilipat sesiku tangannya dipadu dengan jeans hitam, dan badannya tegap megendong tas ransel gunung di punggungnya. Aku masih ingat DIa memakai jam sport warna hitam di tangan kirinya serta gelang manik-manik kayu, oh iya sneakers yang DIa pakai sama sepertiku cuma berbeda warna. Mereka semakin dekat, selangkah demi selangkah terus membuat semakin jelas siapa sosok itu. Semakin dekat sosok itu ke arahku maka benang-benang kusut di ingatanku akan tentangnya itu mulai terurai sedikit demi sedikit. Di saat yang bersamaan jantungku rasanya mau copot, jangan ditanya lagi kecepatannya sudah gak karuan lagi, pikiranku blank. Aku ingin menyerah dari keadaan ini dengan menjauh tapi nasib berkata lain sampai jarak kurang dari 3 langkahpun aku masih tetap di tempat gak bergerak sama sekali, sepertinya otakku sudah kehabisan oksigen. Pasrah, jalan terakhir dari ini semua, pasrah dengan mereka yang sudah semakin dekat, pasrah dengan keadaanku yang seperti orang bego. Ari mengagetkanku dari kekhawatiran.

Woi Dit maaf ya lama, ini ketemu Dia dulu. hehe “ sapa Ari

Eh iya gapapa kok.

Hehe, eh ini Dit inget temen kita. Inget gak?

Jauh sebelum pertanyaan itu, otakku yang gak terlalu encer ini udah inget jelas siapa Dia, Ari.

Hai Rissa “ sapanya kepadaku.

DIa tau nama depanku Rissa dan mungkin nama itu akan tetap menjadi panggilannya kepadaku. Apapun yang DIa sebut untuk memanggilku semua serasa istimewa karena keluar dari mulutnya dengan suaranya yang merdu ngalahin semua penyanyi cowok, dan hebatnya suaranya masih sama. Sama seperti dulu, sama seperti rekaman audio di otakku. Tak berubah sedikitpun!

Hai “ sambutku dan menjabat tangannya, hanya itu yang direaksikan tubuhku.

Dan DIa tersenyum. Rasanya, taman-taman bunga dan pepohonan rindang ada di sekitarku membuat semuanya terasa indah, damai, dan nyaman. Ada kerutan di samping kedua matanya yang muncul ketika DIa tersenyum atau ketawa. Mata lebarnya dengan bola mata warna hitam masih bagian terindah dari semua yang ada, bagiku.

Duniaku berhenti sepersekian menit saat tanganku dan tangannya saling bertemu, lembut tangannya sampai ke ulu hatiku. Tanpa ku sadari, tangannya membawa kunci yang cocok untuk gerbang rumah hatiku. Rumah tempat semua kertas-kertas kenangan hidupku sedari dulu, yang sudah ku tata rapi dan ku tutup rapat-rapat agar tak terbuka kembali. Hati-hati aku menata kertas-kertas itu selama bertahun-tahun, tapi sekarang. Dia datang, dengan singkat Dia membuka pintunya dengan lebar-lebar.

Sesuai perkiraanku, tumpukan-tumpukan kertas usang itu berterbangan ke segala penjuru ruangan. Semuanya, menjadi berantakan.

 

 

Next part #ceritaberantai part2, you can check on nocomic.wordpress.com thankyou! Happy reading , everyone ^^

Advertisements

3 Replies to “#cerita berantai part 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s