Rumahku ini tak seperti, rumahku.

Kalau kamu sedang ada dalam masalah, pulanglah. Karena di sana ada obat yang akan meringankan bebanmu.

Seliweran baca kalimat ini di salah satu timeline, aku lupa apa. Dan orang yang nulis juga lupa siapa, semoga kalau orangnya baca aku dibolehin nyomot statusnya.

Kalimat ini gak salah tapi juga gak selalu benar. Di benak orang-orang rumah itu;

Satu-satunya tempat berpulang badan dan jiwa kamu dari perjalanan jauh, darimana pun itu. Tempat paling nyaman untuk menghilangkan semua penat, keserabutan pikiran, dan mawutnya hidup. Tempat yang paling tepat untuk membuang semua pikiran jelek yang didapat dari perjalanan. Rumah gak sesederhana kata, di balik itu semua ada sesuatu yang kompleks di dalamnya. Entah itu sebuah rasa nyaman, rasa tenang, senang, bangga, bahagia, semuanya ada di dalamnya bersatu padu menjadi sebuah ramuan yang orang-orang impikan. Ramuan itu dipadu padankan dengan hadirnya keluarga, di mana keluarga penopang hidup yang transparan. Selalu ada di setiap saat, selalu datang menyambut apapun keadaan kamu baik atau buruk. Satu-satunya pelukan yang siaga saat kamu kedinginan dari terpaan angin-angin malam yang jahat. Hebat, kan?

What if.

Bagaimana, kalau ternyata rumah itu sudah bukan satu-satunya tempat berpulang dari perjalananku?

Bagaiamana jika rasa nyaman, senang, damai tak lagi menghampiri saat kaki ini menginjakkan di lantai rumah itu?

Bagaimana jika, pelukan-pelukan hangat itu sudah menjadi sangat dingin sekarang?

Naas, seharusnya di rumah ini raga akan ditemani dengan rasa nyaman, damai dan bahagia hingga tak perlu lagi memikirkan bagaimana kerasnya dunia di luar sana. Seharusnya, saat kepala yang mendidih ini masuk ke dalamnya akan dingin dan tenang tapi kenyataanya kepala ini seakan bisa melepuh secara perlahan. Bagaimana, ini?

Rumahku ini tak seperti, rumahku.

Di pikiranku justru ada rumah-rumah lain di luar sana, yang aku rasa akan menjadi rumah yang baik untukku. Ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan yang selalu aku inginkan tak lagi aku dapatkan di sini. Semuanya makin bertambah buruk di sini, taka da lagi namanya obat mujarab. Heran. Sebenarnya ini apa yang terjadi, entah keegoisanku yang tak pernah redam akan hal-hal di luar jangkauanku atau memang keadaan yang sudah tak lagi baik di sini?

Jauh sekali dari lubuk hati, aku merindukan obat dari tempat ini. Saat aku datang dengan segala kejenuhan, kesemerawutan, kebosanan hidup dengan hanya aku masuk ke dalamnya, semua menghilang dan seakan-akan semuanya baik-baik saja. Aku merindukan, keinginan kuat untuk pulang ke tempat ini lagi dan lagi di dalam perjalananku. Aku rindu itu semua, karena parahnya. Aku lupa kalau ini adalah sebuah rumah, yang dulu pernah aku rindukan sebegitu hebatnya.

I want know how feel happiest when I go home, I want know how feel my badmood just disappear when I arrived at home and feel comfort in there.

 

Ps: please, someone. Take me out in this place to somewhere, let us find new home in there.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s